Makalah Perkembangan dan Pertumbuhan Anak Sekolah Dasar
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang.
Perkembangan dan pertumbuhan anak
merupakan hal yang penting untuk kita pelajari dan kita pahami selaku calon
pendidik. Banyak para pendidik yang belum memahami perkembangan – perkembangan
anak. Sehingga masih ada pendidik yang menerapkan sistem pembelajaran tanpa
melihat perkembangan anak didiknya. Hal ini akan berakibat adanya
ketidakseimbangan antara sistem pembelajaran dengan perkembangan anak yang akan
menyulitkan anak didik mengikuti sistem pembelajaran yang ada. Dengan
mengetahui proses, faktor dan konsep perkembangan anak didik kita akan mudah
mengetahui sistem pembelajaran yang efektif, efisien, terarah dan sesuai dengan
perkembangan anak didik.
Untuk
mengembangkan potensi anak didik dan menciptakan generasi – generasi masa depan
yang berkualitas, maka diperlukan adanya pemahaman tentang perkembangan dan
pertumbuhan anak didik. Dengan demikian, sebagai pendidik kita diharuskan
mengetahui dan memahami perkembangan dan pertumbuhan peserta didik.
B. Rumusan Masalah
1.
Bagaimanakah
karakteristik perkembangan anak usia awal SD ?
2.
Apa
yang dimaksud dengan kognitif ?
3.
Apa
saja tahap perkembangan kognitif siswa ?
4.
Bagaimanakah
cara belajar anak ?
5.
Bagaimanakah
Teori belajar Cognitive Field dari Lewin ?
6. Apa saja Upaya memfasilitasi
perkembangan kognitif anak usia dini ?
C. Batasan masalah
Makalah
yang di bahas pada makalah ini hanya sebatas karakteristik perkembangan
kognitif anak usia SD.
D. Tujuan
1. Mengetahui
karakteristik perkembangan anak usia awal SD.
2. Mengetahui
pengertian kognitif.
3. Mengetahui
tahap-tahap perkembangan kognitif siswa.
4. Mengetahui
cara belajar anak.
5. Mengetahui
Teori belajar Cognitive Field dari Lewin.
6. Mengetahui
Upaya memfasilitasi perkembangan kognitif anak usia dini.
E. Metode
penulisan
Penulisan menggunakan metode pustaka
yaitu membaca buku-buku yang berkaitan dengan penulisan makalah ini dan media
elektronik yaitu internet.
BAB II
ISI
A. Karakteristik perkembangan anak usia
awal SD.
Anak yang berada di kelas awal SD
adalah anak yang berada pada rentangan usia dini. Masa usia dini ini merupakan
masa yang pendek tetapi merupakan masa yang sangat penting bagi kehidupan
seseorang. Oleh karena itu, pada masa ini seluruh potensi yang dimiliki anak
perlu didorong sehingga akan berkembang secara optimal.
Karakteristik perkembangan anak pada
kelas satu, dua dan tiga SD biasanya pertumbuhan fisiknya telah mencapai
kematangan, mereka telah mampu mengontrol tubuh dan keseimbangannya. Mereka
telah dapat melompat dengan kaki secara bergantian, dapat mengendarai sepeda roda
dua, dapat menangkap bola dan telah berkembang koordinasi tangan dan mata untuk
dapat memegang pensil maupun memegang gunting. Selain itu, perkembangan sosial
anak yang berada pada usia kelas awal SD antara lain mereka telah dapat
menunjukkan keakuannya tentang jenis kelaminnya, telah mulai berkompetisi
dengan teman sebaya, mempunyai sahabat, telah mampu berbagi, dan mandiri.
Perkembangan emosi anak usia 6-8
tahun antara lain anak telah dapat mengekspresikan reaksi terhadap orang lain,
telah dapat mengontrol emosi, sudah mampu berpisah dengan orang tua dan telah
mulai belajar tentang benar dan salah. Untuk perkembangan kecerdasannya anak
usia kelas awal SD ditunjukkan dengan kemampuannya dalam melakukan seriasi,
mengelompokkan obyek, berminat terhadap angka dan tulisan, meningkatnya
perbendaharaan kata, senang berbicara, memahami sebab akibat dan berkembangnya
pemahaman terhadap ruang dan waktu. 

B. Pengertian kognitif.
Menurut
Bloom, proses belajar, baik di sekolah maupun di luar sekolah, menghasilkan
tiga pembentukan kemapuan yang dikenal sebagai taxonomy Bloom, yaitu kemampuan kognitif, afektif, dan
psikomotorik. Kemampuan kognitif merupakan kemampuan yang berkaitan dengan
penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Setiap orang memiliki persepsi
tentang pengamatan atau penyerapan atas suatu objek. Berarti ia menguasai
sesuatu yang diketahui, dalam arti pada dirinya terbentuk suatu persepsi, dan
pengetahuan itu diorganisasikan secara sistematik untuk menjadi miliknya.
Setiap saat, bila diperlukan, pengetahuan yang dimilikinyan itu dapat
direproduksi. Banyak atau sedikit, tepat atau kurang tepat pengetahuan itu
dapat dimiliki dan dapat diproduksi kembali dan ini merupakan tingkat kemampuan
kognitif seseorang.
Kemampuan
kognitif menggambarkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi tiap-tiap
orang. Pada dasarnya kemampuan kognitif merupakan hasil belajar. Sebagaimana
diketahui bahwa hasil belajar merupakan perpaduan antara faktor pembawaan dan
pengaruh lingkungan (faktor dasar dan ajar). Faktor dasar yang berpengaruh
menonjol pada kemampuan kognitif dapat dibedakan dalam bentuk lingkungan
alamiah dan lingkungan yang dibuat. Proses belajar mengajar adalah upaya
menciptakan lingkungan yang bernilai positif, diatur dan direncanakan untuk
mengembangkan faktor dasar yang telah dimiliki oleh anak. Tingkat kemampuan
kognitif tergambar pada hasil belajar yang diukur dengan tes hasil belajar.
Tes hasil
belajar menghasilkan nilai kemampuan kognitif yang bervariasi.Variasi nilai
tersebut menggambarkan perbedaan kemampuan kognitif tiap-tiap individu. Dengan
demikian pengukuran kemampuan kognitif dapat dilakukan dengan tes kemampuan
belajar atau tes hasil belajar. Tes hasil belajar yang digunakan hendaknya
memenuhi persyaratan sebagai tes yang baik, yaitu bahwa tes tersebut harus
bersih (valid) dan andal (reliable). Jika persyaratan tes tersebut
dipenuhi, maka variasi nilai kemampuan kognitif yang dihasilkan dengan tes
tersebut akan membentuk sebuah kurva normal.
Inteligensi
(kecerdasan) sangat mempengaruhi kemampuan kognitif seseorang. Dikatakan bahwa
antara kecerdasan dan nilai kemampuan kognitif berkolerasi tinggi dan positif,
semakin tingi nilai kecerdasan seseorang semakin tinggi kemampuan kognitifnya.
C. Perkembangan kognitif siswa.
Menurut
Jean Piaget, perkembangan kognitif anak terdirir dari empat tahapan,
diantaranya:
a)
Tahap sensory-motor. Tahap ini
terjadi antara usia 0-2 tahun. Intelegensi sensory motor dipandang sebagai
intelegensi praktis. Anak pada usia ini belajar bagaimana mengikuti dunia
kebendaan secara praktis dan belajar menimbulkan efek tertentu tanpa memahami
apa yang sedang mereka perbuat kecuali hanya mencari cara melakukan perbuatan
tersebut.
b)
Tahap pre-oprational. Periode ini
terjadi pada usia 2-7 tahun. Pada tahapan ini anak sudah memiliki kesadaran
akan tetap eksisnya yang harus ada dan biasanya ada, walaupun benda tersebut
sudah ditinggalkan, sudah tidak dilihat atau sudah tidak pernah didengar lagi.
Selain itu seorang anak mulai mampu menggunakan kata-kata yang benar dan mampu
pula mengekspresikan kalimat-kalimat pendek tetapi efektif.
c)
Tahap concrete-operational. Tahapan
ini terjadi pada usia 7-11 tahun. Dalam tahapan ini seorang anak memperoleh
kemampuan yang disebut system of
operations (satuan langkah berpikir). Selain itu anak memiliki kemampuan konservasi (kemampuan dalam memahami
aspek-aspek kumulatif materi, seperti volume), penambahan golongan benda (kemampuan dalam memahami cara
mengkombinasikan benda-benda yang memiliki kelas rendah dengan kelas atasnya
lagi), dan pelipat gandaan golongan benda.
d)
Tahap formal-operational. Usia
tahapan ini adalah 11-15 tahun. Pada tahap ini seorang remaja memiliki
kemampuan mengkoordinasikan baik secara serentak maupun berurutan dua ragam
kemampuan kognitifnya. Yaitu kapasitas menggunakan hipotesis dan kapasitas
menggunakan prinsip-prinsip abstrak. Dengan kemampuan hipotesis, remaja mampu
berpikir khususnya dalam hal pemecahan masalah dengan menggunakan anggapan
dasar yang relevan dengan lingkungan yang ia respon. Sedangkan dengan memiliki
kapasitas prinsip-prinsip abstrak, mereka mampu mempelajari materi pelajaran
yang abstrak, seperti ilmu matematika.
Terkait dengan perkembangan kognitif
anak usia dini, Piaget berpendapat bahwa anak usia dini berada pada tahap
preoperasional, yang deskripsi kemampuannya adalah sebagai berikut :
● Mampu berpikir dengan menggunakan
simbol. Kemampuan ini merupakan tahap pertama pada preoperasional, yang terjadi
kira-kira antara usia 2-4 tahun. Pada tahap ini anak dapat mengembangkan
kemampuan untuk membayangkan secara mental suatu objek yang tidak ada.
● Berpikirnya masih dibatasi oleh
persepsinya. Mereka meyakini apa yang dilihatnya, dan hanya terfokus kepada
satu dimensi terhadap satu objek dalam waktu yang sama. Cara berpikir mereka
bersifat memusat. Perhatiannya terpusat kepada satu karakteristik dan mengesampingkan
karakteristik yang lainnya.
● Berpikirnya masih kaku belum
fleksibel. Cara berpikirnya terfokus kepada keadaan awal atau akhir dari suatu
perubahan, bukan kepada perubahannya itu sendiri yang mengantarai keadaan
tersebut.
● Dapat mengelompokkan sesuatu
berdasarkan satu dimensi.
● Dikatakan juga bahwa cara
berpikirnya masih egocentrism, yaitu ketidakmampuan untuk membedakan antara
perspektif sendiri dengan perspektif orang lain.
D. Cara belajar anak.
Piaget (1950) menyatakan bahwa
setiap anak memiliki cara tersendiri dalam menginterpretasikan dan beradaptasi
dengan lingkungannya (teori perkembangan kognitif). Menurutnya, setiap anak
memiliki struktur kognitif yang disebut schemata yaitu sistem konsep yang ada
dalam pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap objek yang ada dalam
lingkungannya. Pemahaman tentang objek tersebut berlangsung melalui proses
asimilasi (menghubungkan objek dengan konsep yang sudah ada dalam pikiran) dan
akomodasi (proses memanfaatkan konsep-konsep dalam pikiran untuk menafsirkan objek).
Kedua proses tersebut jika berlangsung terus menerus akan membuat pengetahuan
lama dan pengetahuan baru menjadi seimbang. Dengan cara seperti itu secara
bertahap anak dapat membangun pengetahuan melalui interaksi dengan
lingkungannya. Berdasarkan hal tersebut, maka perilaku belajar anak sangat
dipengaruhi oleh aspek-aspek dari dalam dirinya dan lingkungannya. Kedua hal
tersebut tidak mungkin dipisahkan karena memang proses belajar terjadi dalam
konteks interaksi diri anak dengan lingkungannya.
Anak usia sekolah dasar berada pada
tahapan operasi konkret. Pada rentang usia tersebut anak mulai menunjukkan
perilaku belajar sebagai berikut:
(1) Mulai memandang dunia secara
objektif, bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain secara reflektif dan
memandang unsur-unsur secara serentak,
(2) Mulai berpikir secara
operasional,
(3) Mempergunakan cara berpikir
operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda,
(4) Membentuk dan mempergunakan
keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan mempergunakan
hubungan sebab akibat, dan
(5) Memahami konsep substansi,
volume zat cair, panjang, lebar, luas, dan berat.
Memperhatikan
tahapan perkembangan berpikir tersebut, kecenderungan belajar anak usia sekolah
dasar memiliki tiga ciri, yaitu:
1. Konkrit
Konkrit mengandung makna proses belajar beranjak dari hal-hal yang konkrit yakni yang dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba, dan diotak atik, dengan titik penekanan pada pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar. Pemanfaatan lingkungan akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih bermakna dan bernilai, sebab siswa dihadapkan dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya, keadaan yang alami, sehingga lebih nyata, lebih faktual, lebih bermakna, dan kebenarannya lebih dapat dipertanggungjawabkan.
2. Integratif
Pada tahap usia sekolah dasar anak memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu keutuhan, mereka belum mampu memilah-milah konsep dari berbagai disiplin ilmu, hal ini melukiskan cara berpikir anak yang deduktif yakni dari hal umum ke bagian demi bagian.
3. Hierarkis
Pada tahapan usia sekolah dasar, cara anak belajar berkembang secara bertahap mulai dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks. Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu diperhatikan mengenai urutan logis, keterkaitan antar materi, dan cakupan keluasan serta kedalaman materi .
E. Teori belajar Cognitive Field dari
Lewin.
Kurt Lewin
( 1892-1947 ) mengembangkan suatu teori belajar cognitivefield dengan menaruh
perhatian kepada kepribadian dan psikologi sosial. Lewin memandang
masing-masing individu berada di dalam suatu medan kekuatan, yang bersifat
psikologis. Medan kekuatan psikologis di mana individu bereaksi disebut life
space. Life space mencakup perwujudan lingkungan di mana individu bereaksi,
misalnya : orang-orang yang ia jumpai, objek materiil yang ia hadapi, serta
fungsi-fungsi kejiwaan yang ia miliki. Lewin berpendapat, bahwa tingkah laku
merupakan hasil interaksi antar kekuatan-kekuatan, baik yang dari dalam diri
individu seperti tujuan, kebutuhan, tekanan kejiwaan ; maupun dari luar diri
individu seperti tantangan dan permasalahan.
Menurut
Lewin, belajar berlangsung sebagai akibat dari perubahan dalam struktur
kognitif. Perubahan struktur kognitif itu adalah hasil dari dua macam kekuatan,
satu dari struktur medan kognitif itu sendiri, yang lainnya dari kebutuhan dan
motivasi internal individu.
F. Upaya memfasilitasi perkembangan
kognitif anak usia dini.
Upaya yang
dapat dilakukan oleh orang tua atau guru dalam rangka membimbing dan
memfasilitasi perkembangan kognitif anak secara optimal. Upaya-upaya itu adalah
sebagai berikut :
1. Memberi contoh atau mendorong anak
untuk gemar membaca
2. Mengenalkan lingkungan atau
menstimulasi anak dengan berbagai informasi yang berada dalam lingkungannya
(seperti sosial, alam (flora dan fauna), transportasi, alat-alat dan
komunikasi).
3. Menggunakan rangka, huruf, dan bangun geometri
(seperti segitiga, segi empat, kubus dan trapesium)
4. Melatih anak untuk belajar berfikir
sebab akibat.
5. Membiasakan anak untuk berani
mengungkapkan ide atau gagasan atau mengajukan pertanyaan.
6. Melatih problem solving
(bertanya-jawab dengan anak tentang cara memecahkan masalah-masalah kehidupan
sehari-hari, seperti cara memelihara gigi agar tidak sakit, dan memelihara diri
agar sehat).
7. Mendorong kemandirian anak untuk
melakukan tugas atau pekerjaannya sendiri (seperti mengerjakan PR)
8. Mengembangkan kemampuan imajinatif
atau daya cipta anak (mengarang, melukis, merupa, dan meneliti).
9. Mengadakan program-program yang
memberikan kesempatan kepada anak untuk berkompetisi, seperti lomba menggambar,
menyanyi, dan deklamasi.
10. Mengidentifikasi kecerdasan anak
melalui tes kecerdasan, dan memanfaatkannya untuk layanan bimbingan.
11. Mengenalkan kepada anak tentang
produk-produk teknologi yang berhubungan dengan komunikasi informatika (seperti
telepon, HP, komputer, video, dan televisi) dan transformasi (pesawat terbang,
kapal laut, kereta api, macam-macam mobil, dsb
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan.
Karakteristik
perkembangan anak pada kelas satu, dua dan tiga SD biasanya pertumbuhan
fisiknya telah mencapai kematangan, mereka telah mampu mengontrol tubuh dan
keseimbangannya.
Perkembangan
emosi anak usia 6-8 tahun antara lain anak telah dapat mengekspresikan reaksi
terhadap orang lain, telah dapat mengontrol emosi, sudah mampu berpisah dengan
orang tua dan telah mulai belajar tentang benar dan salah.
Kemampuan
kognitif merupakan kemampuan yang berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan
dan teknologi.
Menurut
Jean Piaget, perkembangan kognitif anak terdiri dari empat tahapan,
diantaranya:
a)
Tahap
sensory-motor.
b)
Tahap
pre-oprational.
c)
Tahap
concrete-operational.
d)
Tahap
formal-operational.
Kecenderungan
belajar anak usia sekolah dasar memiliki tiga ciri, yaitu:
1. Konkrit
2. Integratif
3. Hierarkis 

B. Saran.
Dalam
penulisan makalah ini masih terdapat banyak kekeliruan oleh karena itu penulis
mengharapkan kritik dan saran yang konstruktifis sebagai masukan dan perbaikan
dalam makalah ini. Saran penulis, sebaiknya bimbingan oleh dosen lebih di
tingkatkan agar pembelajaran menjadi lebih optimal.
Daftar pustaka
http : //
zuldyn.wordpress.com (diakses pada 1
oktober, hari senin pukul 10.00 WITA)
L.
N, Syamsu yusuf dan Nani M. Sugandhi. 2011. Perkembangan
Peserta didik. Jakarta : PT Rajagrafindo Persada.
Soemanto,
Wasty. 2006. Psikologi pendidikan.
Jakarta : PT Rineka Cipta.
Sunarto,
H dan B. Agung Hartono. 2006. Perkembangan
Peserta Didik. Jakarta : PT Rineka Cipta.


Komentar
Posting Komentar